Book Project

Strategically Lazy

Acknowledgement

Halo, terima kasih telah membeli buku ini. Perkenalkan, nama saya Gilang. Pada saat ini saya tinggal di Fukuoka, Jepang dan bekerja sebagai fasilitator di sebuah studio inovasi digital yang mulai saya rintis bersama teman kuliah saya 3 tahun silam tepat setelah saya menyelesaikan program doktoral saya di London. Di keseharian saya, saya membantu memfasilitasi proses inovasi digital di banyak organisasi di Jepang agar lebih cepat dan efektif. Sebagai fasilitator, saya dan tim memastikan bahwa klien kami benar-benar mengidentifikasi masalah yang tepat dan solusi yang diciptakan benar-benar membawa nilai tambah bagi pengguna, sehingga organisasi-organisasi ini tidak menghabiskan uang dan waktu yang banyak untuk membangun ide yang salah, yang tidak dibutuhkan atau tidak relevan dengan masalah yang dihadapi oleh pengguna. Mengutitp kata-kata dari Alberto Savoia, we need to make sure that you build the right 'it' before you build it right.
Menulis bukanlah hal yang mudah untuk saya. Bukan berarti saya benci menulis, tetapi merangkai kata untuk mengekspresikan ide dan gagasan saya lebih memakan waktu dan tenaga dibanding dengan menggambarkannya secara visual. Mungkin itulah mengapa saya butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan thesis doktoral saya (alasan saja). Tetapi, inilah dia, saya memutuskan untuk mulai menulis dan menyelesaikan buku pertama saya. Saya tahu hasil akhirnya akan jauh dari kata sempurna, tapi saya harap bisa membawa manfaat untuk yang membacanya. Buku ini juga merupakan sebuah legacy yang bisa saya tinggalkan ke anak-anak saya, sehingga kelak mereka bisa menyimpan jejak dari ayahnya dalam bentuk tulisan.
Sebagian besar dari ide-ide yang saya tulis di buku ini bukanlah gagasan asli dari saya. Buku ini adalah sebuah jurnal pembelajaran saya selama 10 tahun terakhir yang saya kurasikan dari banyak sumber yang saya baca selama pascasarjana dan tahun-tahun awal saya merintis studio kami di Jepang, khususnya tentang bagaimana memahami manusia, dan berkreasi secara terstruktur untuk menciptakan sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah dan bermanfaat bagi orang banyak.
>
Hello and thank you for purchasing this book. My name is Gilang, and I am the co-founder of Next Creation, a digital innovation studio based in Fukuoka, Japan. I help companies in Japan innovate faster and more effectively by facilitating design workshops to help them identify the right problem and explore ideas, turning those ideas into something tangible, and testing them to validate the ideas, so they don't waste a lot of money and time building the wrong product that no one need.
 
Writing is not an easy task for me. It's not that I hate it or anything, but it takes more effort for me to express my thought through words than visually. It's probably the reason why it took me years to finish my doctoral thesis (yet another excuse). But anyway, here it is, my first book. It is far from perfect, but it is one of the legacy I can create so my children can have a permanent trace of their father and his thoughts. Now mind you that the
  • The ideas and thoughts in this book are curated from others
  • I dedicate this book to:
  • Lastly,...
 
 
 

What's inside this book?

My learnings.

One fine day in London - Epilogue

Jarang-jarang siang itu cerah. Ya, di kota seperti London yang hampir kelabu sepanjang tahun, memang hari yang terik itu cukup langka dan kebanyakan orang akan menyambutnya dengan gembira dengan berjemur di taman. Tetapi pada siang hari itu saya memilih untuk duduk di meja kerja dan merencanakan eksperimen kedua untuk proyek PhD saya. Saya sedang kalut memang, kebingungan seperti kehilangan arah. Saya tidak bisa melihat titik cerah di akhir terowongan gelap perjalanan PhD, apalagi setelah saya tahu kalau saya harus ganti supervisor lagi untuk yang kedua kalinya karena beliau harus pindah ke Melbourne. Hubungan murid s3 dan supervisor bisa dibilang salah satu kunci utama selama perjalanan studi doktoral, dan pada saat itu saya sadar bahwa harus menyiapkan proses transisi dan penyesuaian dengan supervisor yang baru, kali ini untuk yang kedua kalinya.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Kiyo. Kiyo adalah teman kuliah saya semasa s1 di Kyoto, Jepang. Dia menanyakan kabar dan menceritakan beberapa rencananya setelah selesai MBA. Kami bertemu pada tahun 2010 dan bekerja pada suatu proyek yang sama, dan kami berteman baik sejak saat itu. Saya jadi ingat betul, ketika diajak oleh senior saya untuk ikut ke dalam inkubasi startup kampus yang dipimpin oleh Kiyo karena mereka butuh orang untuk mendesain User Interface sekaligus bisa mengkoding bagian front-end dari proyek yang sedang mereka rintis. Pada saat itu saya langsung iya-kan, dan mungkin inilah awal dari terbukanya banyak peluang besar yang telah saya ambil selama 10 tahun belakangan ini. Sebagai seorang mahasiswa computer science yang belajar desain grafis secara otodidak sebagai hobi, saya pikir ini adalah satu kesempatan untuk mulai mengaplikasikan keduanya dalam suatu proyek yang nyata. Tetapi ternyata lebih dari itu, mata saya seperti sangat terbuka setelah bertemu dengan rekan dalam tim yang berasal dari jurusan lain. Pada saat itu, era dimana smartphone belum begitu menjamur, kami merancang sebuah layanan online untuk mendigitalisasi dan mengelola informasi kartu nama, sebuah item yang sangat essensial dalam skena bisnis di Jepang. Kami berkolaborasi untuk merumuskan business plan, membangun prototipe demi prototipe, dan juga merencanakan pitch untuk kontes demi kontes yang berhasil kami menangkan dan membawa nama kami menjadi cukup terkenal di daerah Kansai pada saat itu. Bukan hanya itu saja, kolaborasi ini telah berhasil mempertemukan saya dengan orang-orang baru yang mungkin tidak akan pernah saya temui apabila saya tidak berada dalam tim ini. Pertukaran informasi dengan merekalah yang menjadi awal dari perjalanan saya untuk semakin menekuni bidang ini, dimulai dari program internship di sebuah startup media bergengsi di Shibuya, Tokyo (sampai saya harus bolak-balik Kyoto-Tokyo setiap minggu selama tahun ke-4 saya di kampus), sampai kemudian memutuskan untuk mengambil s2 bidang Media Design di Keio University Tokyo, kampus swasta terbaik di Jepang. Pengalaman saya selama berada dalam inkubasi startup di kampus selama s1 lah yang menarik para dosen di Keio University untuk menerima saya, sampai menawarkan beasiswa Monbukagakusho untuk biaya kuliah dan biaya hidup secara penuh. Di sinilah awal mula saya mendalami Design Thinking dan saya sangat bersyukur karena saya merasa seperti berada dalam lingkungan kreatif yang memfasilitasi dan memacu saya untuk belajar lebih banyak. Lalu kemudian, kesempatan demi kesempatan mulai berdatangan. Saya masuk ke dalam sebuah proyek digital wearable yang sangat menarik, sampai-sampai kami berkesempatan untuk mempublish jurnal dan publikasi atas karya kami dan mengenalkannya di banyak konferensi Internasional seperti di Enschede, Belanda, Madeira, Portugal, sampai di Silicon Valley, Amerika Serikat. Ini juga yang mengantarkan saya untuk mendapatkan kesempatan bergabung dalam program Global Innovation Design, dan berkuliah singkat di Pratt Institute, New York, serta Royal College of Art dan Imperial College di London. Singkat cerita, inilah yang menumbuhkan ketertarikan dan kecintaan saya pada kota London, dan pada akhirnya yang membawa saya untuk pindah ke kota ini setelah saya lulus program master di Tokyo. Kesempatan demi kesempatan saya ambil, dan secara reguler saya terus memberitakan kabar-kabar ini kepada Kiyo, yang juga terus menceritakan kepada saya tentang perkembangan dunia IT di Jepang, sampai saat dia memutuskan untuk mengambil MBA di kampung halamannya di Kyushu, sebuah pulau di selatan Jepang.
Pesan dari Kiyo yang saya terima hari itu adalah awal dari Next Creation Inc, studio inovasi digital yang kami rintis di Fukuoka, Jepang. Kiyo pada saat itu menceritakan tentang bagaimana dia belajar banyak hal baru, termasuk Design Thinking, selama menjalani program MBA, dan mengajak saya diskusi tentang peluang dari implementasi pola pikir ini ke perusahaan-perusahaan di Jepang. Kami sepakat bahwa Jepang sebenarnya memiliki banyak teknologi yang advanced, tapi tak jarang terkesan tidak tepat guna, karena perencanaan yang terlalu menitikberatkan pada kecanggihan teknologi, tetapi mengesampingkan kebutuhan dan masalah utama pengguna yang sebenarnya harus diselesaikan. Setelah hari itu, sambil menyelesaikan studi doktoral, hari-hari saya diisi dengan diskusi demi diskusi tentang rencana 'kepulangan' saya ke Jepang, dan membuat rencana bisnis untuk Next Creation. Alhamdulillah, sebagian besar dari rencana kami terlaksana hingga saat ini di tahun 2021, dan kami, walaupun masih jauh dari sempurna, masih diberi kesempatan untuk mengembangkan studio kami dan memfasilitasi proses inovasi digital di banyak organisasi di Jepang agar lebih cepat dan efektif. Sebagai fasilitator, kami mengadakan workshop desain, baik secara tatap muka ataupun virtual, untuk memastikan bahwa klien kami benar-benar mengidentifikasi masalah yang tepat dan solusi yang diciptakan benar-benar membawa nilai tambah bagi pengguna, sehingga organisasi-organisasi ini tidak menghabiskan uang dan waktu yang banyak untuk membangun ide yang salah, yang tidak dibutuhkan atau tidak relevan dengan masalah yang dihadapi oleh pengguna. Buku ini adalah sebuah jurnal dari pembelajaran saya terhadap proses creative problem solving yang kami terapkan di Next Creation yang saya kurasikan dari berbagai sumber. Saya berusaha sebaik mungkin untuk menyampaikannya dengan cara dan bahasa yang sesederhana mungkin dan dalam format yang lebih mudah untuk dieksekusi oleh banyak kalangan pembaca. Selamat menikmati dan semoga buku ini bermanfaat untuk membawa perubahan-perubahan kecil di hidup anda dan orang-orang sekitar kamu.
>
I was in the middle of planning my second experiment for my doctoral project. I was lost, and could not see the end of tunnel.
  • Abis ganti supervisor
  • Nelfon kiyo
  • Planning next creation

Asking the right questions

Pada saat melulai sebuah proyek, apalagi ketika kita ditunjuk sebagai pemimpin, konsultan, atau pemain utama pada proyek tersebut, seringkali kita ingin diliat sebagai the smartest guy in the room, dengan melontarkan banyak buzzword yang sedang hot dan jargon-jargon sulit untuk menjelaskan solusi yang kita ciptakan pada saat itu juga untuk menunjukkan keahlian kita. Padahal, efek yang ditinggalkan malah sebaliknya dan bisa jadi berefek buruk pada proyek tersebut dan hubungan kita dengan anggota tim lainnya.
Fokus utama yang seharusnya kita punya pada saat pertemuan pertama kita dengan banyak stakeholders dalam suatu proyek adalah untuk mendengarkan dan memahami masalah yang sedang kita coba untuk pecahkan. Coba resapi dan dalami, berempati, and try to walk in their shoes. Siapakah mereka, apa harapan dan kecemasan mereka, hal penting dan pikiran apa yang membuat mereka terbangun saat malam hari. Tahan keinginan kita untuk langsung menjawab tantangan tersebut langsung pada saat itu juga, dan tetap fokus dalam mendengarkan dan memahami. Latihan ini sangat bagus untuk menghindari kita dalam mengambil keputusan dan solusi yang masih prematur. Buanglah semua asumsi awal dan jadikan fase ini hanya untuk mendiagnosis dan menggali lebih dalam tentang latar belakang permasalahan, mengartikulasikannya dan memastikan semua anggota dalam tim memiliki pemahaman yang sama terhadap masalah tersebut.
Apabila kamu dapat merumuskan dan menanyakan pertanyaan yang tepat, kamulah yang sebenarnya sedang memimpin jalannya pertemuan tersebut, karena secara tidak langsung kamu sedang mengarahkan semua orang untuk berpikir tentang hal-hal apa saja yang harus difokuskan. Seringkali, pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan secara tepat akan lebih efektif dan lebih persuasif dibandingkan dengan memberikan argumen-argumen yang bisa jadi masih merupakan asumsi awal dan seringkali tidak relevan dengan akar masalah yang sebenarnya. Inilah yang saya pelajari dari Chris Do, seorang pengusaha asal Vietnam yang memberikan banyak pelatihan tentang proses bisnis kreatif.
Saya berikan contoh.
 
Ini adalah fase paling awal yang sangat penting dalam mindset Design Thinking.
>
  • Sometimes you want to be seen as the smart guy. Buzzwords and jargon as solution.
  • Throw away your assumptions
  • Resist the urge to answer or provide solution
  • Respond by asking question
  • Your sole focus in your first meeting with your potential client is to try to walk in their shoes. To empathise and understand them. Who are they. How can you help them. What are the things that keep them awake at night. What are their hopes, fears.
  • Resisting the urge to answer directly and focus on listening will help to reduce the risk of making premature and bad decision.
  • Deeper motivations, gain clarity, challenge assumptions, demonstrate curiosity and empathy. - Chris Do
 
  • In control of the conversation, dictating what areas are important to focus.
  • A carefully phrased question will often be more effective, meaningful, and presuasive than any argument you could make.
  • Mendiagnosis > memberi resep.
 
 

 

Making sense of mess

>
  • My first encounter with DT was in 2012, when I entered Grad School.
  • Daniel from Stanford
  • Module.
  • Sailboat
  • HMW
  • Journey Map

 

Don't rely on creativity. Take control and make it spark. (?)

>
  • You have to know what's there
  • Riset: Literature review
  • Lighting demo
  • 4 step sketch
  • Other exercises

 

If you have time for discussion, you have time to make it real (and tangible?)

>
  • Prototyping
  • Pretotyping

 

Idea Validation

>
 

 

Reflect: Value, pricing, etc.

>
Perubahan